Kasus teroris yang terjadi Indonesia (Manusia dan Pandangan Hidup)

Manusia dan Pandangan Hidup

Kasus teroris yang terjadi  Indonesia :

BOM MEGA KUNINGAN, CARUT MARUT PENANGANGAN KASUS TERORISME

Setelah sekian tahun bebas dari terror bom, Jumat 17 Juli lalu Indonesia kembali disentak. Kali ini hotel JW Marriot dan Ritz Carlton yang menjadi sasarannya. Kita luar biasa terperanjat. Tak pernah terbayangkan sebelumnya. Baru saja bangsa ini menggelar Pilpres dengan sukses terselenggara dengan lancar meski sejumlah kecurangan ditengarai. Polisi pun belum lama menangkap sejumlah orang yang diduga kaki tangan Nordin M. Top, yang kemudian disebut sebagai “Kelompok Cilacap”. Yang semakin membuat kaget dan penasaran, ledakan terjadi di tengah serangan (tidak pernah disebut sebagai teroris) OPM ke Freeport dan sehari sebelum Manchester United bertandang ke salah satu hotel tersebut. Sekretaris Presiden pun harus turun tangan menghiba ke PM Inggris, agar klub sepakbola terfavorit itu sudi melanjutkan rencana bertanding di Jakarta meski gagal.

Bola semakin menggulir panas, ketika SBY mengkaitkan peledakan ini dengan temuan intelijen tentang ancaman terhadap dirinya. Foto SBY yang dijadikan sasaran tembak oleh orang yang diduga teroris, cukup dianggap sebagai sebuah rencana pembunuhan. Ya, pembunuhan terhadap seorang Presiden. Tak cukup, SBY pun memaparkan adanya sekali lagi temuan intelijen tentang adanya rencana pendudukan kantor KPU dan aksi-aksi anarkis lain untuk menolak keputusan KPU yang memenangkan dirinya sebagai Presiden periode 2009-2014. Konon, menurutnya, konspirasi ini didalangi oleh orang yang dahulu pernah membunuh dan menculik namun hingga kini bebas dari jerat hukum. Siapa lagi kalau bukan Prabowo, pesaingnya dalam Pilpres kemarin… Sesuatu yang membuat citra SBY sedikit bermasalah, di samping kenyataan bahwa foto-foto tadi ternyata bukan barang baru. Sudah dirampas polisi sejak 2004, namun dirilis seolah-olah temuan baru dan terkait dengan bom 17 Juli ini.

Suhu politik memanas, melebihi saat menjelang Pilpres. Lawan-lawan politik SBY menggunakan celah baru untuk menyerang, setelah kemungkinan opsi menolak hasil Pilpres kurang populer. Sementara, para pembela di sekelilingnya dengan segala cara berusaha keras mengutak-atik tafsir statemen SBY tersebut, supaya bola api dapat dijinakkan. Meski susah dan tetap membesar, tiba-tiba bola api tersebut bergeser dari arah menyerang SBY, menuju target baru: Ngruki.  Sebuah pondok pesantren di pinggiran Solo, Jawa Tengah yang memang sudah sejak lama selalu dikaitkan dengan aksi terorisme. Membidik Ngruki, otomatis membidik target-target lain. Sosok Abu Bakar Ba’asyir dan Jamaah Islamiyah (JI). Mantan pejabat yang geram karena usul pemberantasan JI dulu tak diamini pun, seolah mendapat angin baru. “Larang semua kegiatan Wahabi. Kembalikan ke Islam yang sesuai budaya Indonesia,” cetus eks KepalaBIN,Hendropriyono”.

Arah bola yang sekonyong-konyong berubah itu bermula dari sosok Abdurrahman Assegaf, ketua Gerakan Umat Islam Indonesia (GUII). Setelah polisi menengarai pelaku peledakan adalah tamu kamar 1808 JW Marriott berinisial N, pria berpenampilan seperti Habib ini mengklaim memiliki data akurat bahwa pelaku peledakan adalah Nur Hasbi alias Nur Sahid. Hasbi atau Sahid adalah lulusan Ngruki, satu angkatan dengan Asmar Latin Sani, eksekutor bom Marriott I, 2004 silam. Biodata komplit sosok yang kemudian dipastikan bernama Nur Said itu pun diurai. Gayung bersambut, polisi pun mencontek data berupa tulisan tangan tersebut. Aneh, kenapa tiba-tiba Abdurrahman Assegaf lebih tahu daripada polisi? “Semula saya kira polisi dan BIN sudah punya data ini. Ternyata belum. Makanya kemudian saya serahkan,” kilahnya ketika ditanya mengapa baru mengungkap “data” setelah polisi merilis dugaan “N” sebagaipelaku.

Warna-warni keganjilan wajah pejabat negeri ini dan beberapa keanehan yang muncul tiba-tiba membuat peledakan bom kali ini memang sedikit istimewa dibanding peledakan lainnya. Beberapa analisis terror pun menilai timing peledakan kali ini sangat tepat. Pilpres, MU, JI, Freeport… membuat kita sulit menerka motif sebenarnya di balik aksi ini. Meski demikian, sikap aparat tetap memiliki benang merah yang sama dengan kasus-kasus sebelumnya: stigma! Memang, opini yang sudah terbentuk sebelumnya membuat kita sulit untuk tidak mengaitkan setiap aksi teror dengan Ngruki, Jamaah Islamiyah, Noordin M. Top dan sederet ikon-ikon yang dianggap teroris lainnya. Namun, kepanikan sekaligus kepandiran dalam menanggapi dan menangani kasus peledakan terakhir ini, terlihat jelas. Bagaimana sosok SBY yang dikenal hati-hati dalam memberikan statemen, teliti sebelum bertindak, tiba-tiba seperti kehilangan kendali. Sampai-sampai mengkait-kaitkan foto 2004 dengan kejadian 5 tahun kemudian.

Media? Seperti kehilangan rasionalitas nalar, mereka berlomba-lomba menjejali publik dengan informasi yang dipaksakan. Keterlibatan Nur Said yang masih samar tak dipedulikan. Yang penting ada obyek tembak untuk menarik opini publik, mengalihkan perhatian dan meningkatkan rating. Meski, polisi sendiri berkali-kali mengulang masih samarnya kemungkinan Said menjadi eksekutor. Masyarakat pun dijebak dalam teka-teki hampa, membanding-bandingkan gambar sebuah potongan kepala dengan foto Said. Makin seru, dengan munculnya sosok Ibrahim, seorang karyawan JW Marriott. Apalagi, keluarga yang melaporkan kehilangan Ibrahim adalah sosok berjenggot. Ditambah temuah surat wasiat dari Ibrahim untuk melunasi hutang-hutangnya. Jadilah Ibrahim sosok “seleb” mendampingi Said. Hingga akhirnya 23 Juli siang, melalui tes DNA polisi mementahkan asumsi Said dan Ibrahim sebagai eksekutor. Teka-teki pun makin berliku. Meski demikian, Abdurrahman Assegaf masih bebas menghirup udara segar.Padahal,ia sudah layak ditangkap karena memberikan informasi palsu. Perilaku media dan opini publik yang kemudian terbentuk, sepertinya hanyalah sebuah pola dari sistim baku penanganan terorisme yang selama ini berlaku. Sistim satu arah yang selalu mengundang applaus Barat. Noordin dan mereka yang dituding sebagai pelaku teror memang mempunyai kasus hukum, yang karena itulah aparat tak kenal lelah memburu mereka. Namun, pernahkah terbangun pertanyaan dalam benak kita, mengapa mereka melakukan semua itu? Bila keinginan mereka adalah melawan kezaliman AS terhadap dunia Islam, mengapa, misalnya, tidak sekalian kita sarankan mereka beraksi di Iraq, Afghanistan atau ladang lainnya. Ladang riil yang memungkinkan mereka face to face langsung dengan Amerika, bukan dengan korban-korban yang selama ini asumsi kita selalu saja menganggap tidak terlibat langsung? Sebuah win win solution yang sama sekali tidak populer dan terlalu naif di mata Barat.

Selama ini selalu saja kita terlalu mendiktekan diri untuk selalu mengikuti apa yang diopinikan Barat. Selama itu pula, sebenarnya, penanganan kasus terorisme tak pernah berujung. Jaringan yang semula diyakini telah pupus… dalam segala keterbatasannya mampu bermetamorfosa membentuk sel-sel baru yang lebih berbahaya. Pola seperti ini tak pernah putus, bahkan di Barat sekalipun. Korban yang seharusnya tidak perlu, terus berjatuhan. Karena itu, sudah saatnya kita evaluasi penanganan aksi terorisme di negeri ini. Apakah cukup hanya dengan pendekatan hokum tangkap, interograsi, siksa, adili dan kurung atau tembak mati seperti selama ini, atau diperlukan metode lain. Ini persoalan bersama bangsa. Sudah saatnya semua elemen yang berkepentingan duduk bersama dengan kepala dingin untuk mencari solusi. Bukan dengan amarah apalagi nafsu untuk memuaskan kepentingan asing. Sebab, persoalanideologitaksegampangmenyelesaikansebuahkasuskriminal.

Sekali lagi, tanpa mengganggu proses pengusutan dan penegakan hukum bagi pelaku teror, suatu pendekatan alternatif perlu digagas. Tentu, terlebih dahulu kita harus bersepakat bahwa masalah ini adalah milik bangsa kita. Segala macam metode penanganan yang ditawarkan harus mengacu kepada kepentingan bangsa kita. Bukan demi memuaskan keinginan Barat. Sebab, selama kita tak berani keluar dari cengkraman kepentingan mereka, selama itu pula masalah pelik ini akan membelit kita. Entah sampai kapan berakhir.

Kasus Terorisme di Aceh Bukan Pengalih Isu

Pengamat terorisme Wawan Purwanto meragukan jika penyergapan teroris di Aceh disebut sebagai pengalihan isu kasus Bank Century. Menurut dia, penyergapan sudah dilakukan melalui proses panjang yangmelibatkanteknikpenjejakansecaraelektronik.

Wawan mengungkapkan itu dalam diskusi bertajuk ‘Aceh Ladang Baru Terorisme?’, di Gedung DPR, Rabu (17/3). Dia mengatakan, penentuan titik lokasi teroris dilakukan dengan menggunakan sinyal telepon seluler. Sinyal bisa melacak keberadaan teroris yang diburu polisi meski keberadaan mereka bisa segera hilang saat teroris mematikan ponsel yang mereka gunakan.Sebelumnya, dalam diskusi yang sama, pengamat politik dari Universitas Indonesia, Boni Hargens, mengatakan kalau terorisme di Indonesia tidak melulu masalah agama. Dia mensinyalir kemungkinan terorisme digunakan sebagai komoditas publik atau bahkan bisnis politik. “Apalagi dalam kasus teroris di Aceh,”kataBoni.
Dalam hal ini Boni cenderung melihat pengungkapan teroris sebagai bentuk pengalihan isu. Tujuannya agar publik teralihkan perhatiannya dari isu seperti kasus Century ke kasus teroris.

Namun, bantahan atas pandangan Boni itu juga datang dari anggota DPD asal Aceh, Mursyid. Dia meminta jangan ada lagi pemberian label-label hitam yang dilekatkan pada Aceh. “Kalau mau jadi teroris, mengapa Gerakan Aceh Merdeka tidak dari dulu keluar Aceh dan meledakkan bom di sini (Jakarta),” kata dia.

Tersangka Teroris Medan Eks Napi Kasus Terorisme


MEDAN– Pengakuan enam tersangka teroris Medan dalam pemeriksaan malam ini, layak dijadikan bahan evaluasi dalam penanganan kasus-kasus terorisme. Mereka mengaku sudah pernah dihukum karena terlibat dalam kasus terorisme.Dalam kaitan ini, proses deradikalisasi harus senantiasa dikedepankan dalam menangani para nara pidana kasus terorisme, sehingga setelah bebas mereka tidak kembali ke habitatnya, seperti kasus enam teroris Medan ini.

Kepala Bidang Humas Polda Sumut Kombes Pol Baharudin Djafar kepada wartawan di Medan menyatakan bahwa para tersangka teroris sudah mengakui keterlibatannya dalam jaringan Aceh. “Mereka juga mengaku sudah pernah dihukum. Saat ini, para tersangka itu sudah teridentifikasi,” ungkapnya di Medan, Minggu (10/4/2010) malam.Pengakuan ini menguatkan dugaan sementara pihak kepolisian bahwa mereka terlibat dalam jaringan terorisme yang masuk ke wilayah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Selain itu, mereka juga termasuk dalam DPO (daftar pencarian orang) kasus terorisme.Bekas luka tembak pada lengan kiri salah seorang tersangka, yakni Komarudin alias Abu Musa (35) juga menjadi bukti keterlibatan mereka dalam jaringan teroris. Luka tembak pada lengan warga Bandar Lampung tersebut diduga didapatkannya saat berusaha melarikan diri dari kejaran pihak kepolisian di NAD.

Saat ini, lima tersangka telah dipindahkan ke Mapolda Sumut, setelah sebelumnya ditahan di markas Poltabes Medan. Sementara satu orang lagi terpaksa dirawat di RS Bhayangkara. “Saat ini, mereka ditangani oleh tim Densus,” tambah Baharuddin.Sementara itu, polisi juga masih mengejar dua tersangka lainnya. Mereka sempat kabur saat petugas hendak menangkap mereka di kawasan Taman Makam Pahlawan Medan, Jalan Sisingamangaraja, Medan, sekira pukul 00.30 WIB dinihari tadi. Polda Sumut sudah mengintruksikan kepada jajarannya untuk mengintensifkan razia di wilayah hukum Sumut.

Dikutip : dari berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: